Exclusive Night With MONO – EVENT Tsunami Kecil Di Tengah Lautan Kemacetan Ibukota

Event 1

Tentu masih teringat di kepala kita semua tentang memori akan bencana Tsunami Aceh yang menerjang serambi mekkah 5 tahun dengan tragisnya. Hal yang tentunya tidak ada satupun masyarakat indonesia yg menginginkan hal ini terulang kembali. Namun, indikasi akan terjadinya tsunami untuk kedua kalinya ini seakan-akan menyeruak kembali ke permukaan.

Pada akhirnya, hal yang serupa tapi tak sama ini pun terjadi kembali pada selasa, 11 oktober 2018 di Nusa Indah Theater Balai Kartini, Sudirman yang resmi menjadi saksi bisu tsunami kali ini.

Tentunya ini tsunami dimaksud ini berbeda dengan 12 tahun yang lalu. Tsunami yang di maksud ini adalah MONO, sebuah band yang dibentuk pada tahun 1999 oleh empat pemuda dan pemudi asli kota Tokyo sebagai bentuk gerakan antitesis terhadap budaya J-pop yang merajalela di Jepang. MONO memakai pengaruh mereka pada diri mereka, memadukan suara jelek bertabrakan yang dipelopori oleh My Bloody Valentine dipadu dengan petikan gitar indah nan halus dari Slint dan Mogwai.  Memang tidak inovatif, tapi jelas menjadi sebuah magis tersendiri.

Pada akhirnya, MONO pun berevolusi menjadi sebuah spesies yang berbeda secara keseluruhan : mereka menerobos dengan banyak pengaruh klasik, lalu mendorong musik mereka ke dalam sebuah ekstrem struktural dan emosional yang berutang sebanyak Wagner dan Beethoven seperti halnya Black Sabbath dan Neurosis. Adanya sebuah pergeseran dinamis membuat mereka lebih sepert transformasi dari gelap menjadi terang, bukan tenang ke keras. Jatuh tempo tersebut tentunya untuk menyeimbangkan elemen-elemen ini tadi sehingga menciptakan suatu keunikan tersendiri dari mereka.

Itulah mengapa saya menyebut mereka bagaikan sebuah tsunami. Di tengah gelombang kemacetan lalu lintas kota jakarta yang hiruk pikuk, Tsunami kecil itupun menyerang setiap insan yang menyaksikan mereka. Tentunya tsunami yang dimaksud bukanlah sebuah bencana alam akan tetapi   Sebuah epik manis nan di tengah kemacetan ibukota. 

Acara yang menurut  sang empunya  acara, StarD Protaintment, dimulai sekitar jam 20.00 malam sedikit melorot karena masih minimnya penonton yang sampai di lokasi. Sekitar pukul 18.00 venue yang di gadang-gadang sebagai ruangan yang memiliki standar akustik di atas rata-rata masih belum menunjukan antusiasme akan kedatangan MONO. Barulah menjelang jam 20.00 waktu setempat, venue pun akhirnya mulai dipenuhi para penonton yang sudah membeli tiket maupun yang belum. Sekitar 20.35 kengerian yang di nanti-nantikan kedatangannya ini pun muncul!

Akhirnya Tsunami yang di tunggu-tunggu ini  pun menunjukan kemegahannya. Seketika itu juga mereka menggetarkan venue  yang berkapasitas  1000 penonoton tersebut dengan sayatan manis Ashes in the Snow,  sebuah opening yang cukup indah untuk kedatangan mereka yang kedua kali ini. Tanpa basa-basi layaknya artis internasional lainnya nomor-nomor seperti  Follow The MapBurial At The sea dan beberapa lagu lain yang kebanyakan dari album Hymn to the Immortal Wind dan You Are There yang mereka bawakan.

Kwartet ini cukup pintar memainkan flow dan emosi penonton yang kebanyakan letih  setelah beraktifitas pada hari yang notabene dimana hari itu merupakan weekday, hari yang cukup sibuk untuk masyarakat ibukota . Dari awalnya yang ‘agak’ sedikit pasif dan minimnya visualisasi mungkin berada di luar ekspektasi penonton hingga pada akhirnya mereka mampu memukau penonton dengan semi-destructive’s act ketika

Taka membanting gitarnya ke lantai. Agak terkejut juga dengan raungan gitar dari Taka dan Yoda yang lumayan memberi muatan noise-rock yang cukup kental. Padahal sebelumnya mereka  hanya duduk di kursi layaknya artis yang akan bermain dengan mode akustikan. Noise-noise yang di bunyikan oleh Taka dan Yoda  benar-benar menghipnotis seluruh penonton malam itu. Belum lagi betotan bass Tamaki yang sangar dan eksplosif tetapi tetap memberikan keanggunannya tersendiri sungguh sangat menyehatkan kuping kita semua. Ditambah juga Tamada sebagai penggebuk drum memainkan perannya dengan sangat energik tanpa lupa untuk tetap mengatur temponya.

Puncak emosional pada konser yang bertajuk “Exclusive Night With MONO” tercapai ketika mereka membawakan  lagu andalan mereka yaitu Moonlight, yang menjadi sebuah mahakarya dari MONO sendiri. Flow yang sempat naik akhirnya turun lagi ketika lagu ini mulai dimainkan. Namun rasa haru terasa menderu ketika lagu yang berdurasi cukup panjang ini  memasuki tahapan pertengahannya. Seketika emosional penonton terpancing menyaksikan suatu kedashyatan bisu memancing penonton diam tak berdaya di buatnya. Suatu epik yang bisa saya bilang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya tragedi tsunami nan indah ini pun harus  diakhiri dengan Everlasting Light tanpa seuntai kata-kata sedikitpun dari para personil MONO.

Lampu menyorot penonton dari bangku VIP hingga balcon membuat secercah harapan adanya encore yang di akan hadirkan. Namun sayang memang tragedi ini harus berakhir di sini. Akan tetapi saya yakin setiap penonton yang keluar dari venue tak akan lekas melupakan apa yang mereka saksikan malam itu, termasuk juga saya sendiri.